Gerakan sosial
dewasa ini dalam perjalannya telah banyak kita jumpai berbagai bentuk gerakan yang berkembang dalam masyarakat. Baik itu gerakan yang bersifat positif (pemberdayaan) maupun gerakan yang bersifat negatif (pemberontakan). Berbagai gerakan yang muncul tentunya dilandasi atau dilatar belakangi oleh berbagai polemik yang muncul dalam masyarakat. Suatu gerakan muncul dengan harapkan dapat membawa perubahan dalam masyarakat, karena gerakan merupakan awal dari sebuah perubahan. Adapun berhasil atau tidaknya suatu gerakan dapat terlihat dari tercapai atau tidaknya tujuan perubahan yang diinginkan oleh masyarakat dalam gerakan tersebut.
Masyarakat dalam proses kemunculan dan pembetukannya secara teleologis merangsek ke arah dirinya sendiri. Dalam proses tersebut terdapat isu penyimpangan, keadilan sosial dan martabat manusia. Sistem koersi dan kontrol, dan penerapannya pada individu-individu dengan mengatasnamakan tatanan sosial, perdamaian dan harmoni sosial menghasilkan sistem pertentangan dan konflik dalam masyarakat. Penindasan dan kekuasaan melahirkan pertentangan. Penggunaan secara gigih oposisi dan resistensi terhadap sistem kekuasaan dan kontrol meurpakan kenyataan sosial yang sama luas berlakunya dengan konsepsi tatanan sosial dalam masyarakat manusia. Selain itu, situasi-situasi ketimpangan dan dominasi sosial jika dijalankan dan dipertahankan oleh institusi-institusi dan lembaga-lembaga sosial pada gilirannya akan menghasilkan sebuah situasi balik dimana terjadi perlawanan, penolakan dan pemberontakan yang menentang sistem dominasi tersebut. Hal tersebutlah yang menyebabkan adanya konflik dalam masyarakat yang dapat membawanya pada gerakan sosial.
Gerakan sosial (social movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.
Kelompok social dengan konsep terbaru
Menurut Direnzo(1990) Gerakan Sosial (Soeyono, 2005:3) adalah perilaku dari sebagian anggota masyarakat untuk mengoreksi kondisi yang banyak menimbulkan problem atau tidak menentu, untuk menghadirkan suatu kehidupan yang lebih baik. Tujuan akhir dari gerakan sosial menurut DiRenzo adalah tidak hanya terbatas pada perubahn sikap dan perilaku individu melainkan sebuah perubahan tatanan sosial baru yang lebih baik.
istilah ‘gerakan sosial baru’ mengacu pada sekelompok gerakan sosial kontemporer (atau mutakhir) yang telah berperan signifikan dan umumnya progresif bagi sebagian besar pengkaji di masyarakat Barat sejak 1960-an. Identifikasi utama mengapa gelombang aktivisme mereka disebut ‘baru’ karena mengacu pada keprihatinan gelombang aktivisme tersebut pada isu, bukannya pada kelas seperti gerakan sosial terdahulu. Biasanya kategori aktivisme baru itu mencakup gerakan perdamaian dan antinuklir, gerakan lingkungan, gerakan ekologis atau gerakan hijau, gerakan pembebasan lesbian dan gay, gerakan feminis gelombang kedua, gerakan anti rasis, dan gerakan gaya hidup alternatif.
Akhir dari Ideologi
Dengan kata lain, GSB (gerakan social baru ) perlahan telah meninggalkan karakter analisa sosial marxisme yang determinan ekonomis, walaupun dalam beberapa kenyataan tidak meninggalkannya secara keseluruhan. Karakter baru ini muncul didukung oleh fenomena “ledakan ekonomi panjang’ dan ‘konsensus demokratis sosial’ pasca-perang Dunia II, serupa dengan periode stabilitas politik, bahkan apati, yang ditandai dengan diumumkannya ‘akhir dari ideologi’ oleh kalangan akademis. (Lipset, 1960:403-17)
Konflik antar modal dan kerja telah diredakan oleh struktur pengompromi kelas pada negara kesejahteraan, dengan kebijakan seperti pajak progresif, penyediaan jaminan sosial dan bantuan kesejahteraan, dan konsultasi ‘neokorporatis’ antara pemberi pekerjaan, serikat pekerja, dan pemerintah (Berger, 1981;Offe, 1984). Sehingga kita sampai pada sebuah hipotesis bahwa gejala Gerakan Sosial Baru, dapat muncul pada tatanan masyarakat dimana kapitalisme telah unggul menjadi satu-satunya pemenang. Herbert Marcuse – pengkritik kapitalisme liberal dari sayap kiri – menggambarkan tatanan sosial yang berkuasa saat itu secara sinis sebagai ‘masyarakat berdimensi satu’ yang sudah tumbuh melampaui pertentangan antara kapitalis dan pekerja. Berdasarkan teori dan ulasan yang didasarkan pada perkembangan masyarakat barat diatas, perkembangan gerakan sosial baru di Indonesia akan cukup menarik untuk diulas. Tanpa menafikan kondisi sosial ekonomi dan budaya yang berlaku di Indonesia, jika kita melakukan pembalikan logika dengan apa yang terjadi di masyarakat barat, kemunculan gerakan sosial baru adalah ciri-ciri tatanan masyarakat Indonesia yang perlahan mulai meninggalkan antagonisme antar kelas.
Masa sosial literasi
Indonesia sebenarnya memiliki Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Peraturan menteri tersebut menyebut adanya kewajiban bagi para siswa untuk membaca buku non pelajaran atau pengetahuan umum sekitar 15 menit sebelum kelas dimulai. Hampir mirip dengan yang diterapkan sekolah-sekolah di Jepang yang mengharuskan siswa membaca selama 10 menit sebelum kegiatan belajar dimulai. Namun bedanya, di Indonesia tidak semua sekolah punya koleksi buku lengkap. Terutama sekolah-sekolah di kota kecil dan pelosok. Banyak perpustakaan-perpustakaan sekolah yang koleksi bukunya tidak lengkap, tidak mengikuti perkembangan zaman, dan usang. Meningkatkan minat baca dan budaya literasi memerlukan akses yang mudah untuk memperoleh buku-buku bacaan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri untuk membenahi masalah ini, perlu kerja sama dari berbagai pihak termasuk komunitas-komunitas dan masyarakat.
Masyarakat harus menjadikan literasi sebagai gaya hidup,sehingga membaca menulis menjadi suatu kebutuhan primer dalam menjalani hidup. Kids jaman now saat ini menjadi generasi yang anti ceramah,anti dengar namun suka akan suatu yang menghebohkan. Ada sedikit kegelisahan yang membaut aneh, kids jaman now lebih senang membaca (bukan buku bacaan) di gadget setiap menit menjadi kebiasaan yang sudah bagian dari hidup entah mengapa kalau di sodorkan buku bacaan seakan melihat buku adalah racun [sebenarnya buku adalah candu]. Kemudian kids jaman now senang sekali menulis (bukan menulis dalam artian literasi) chat hamper ribuan kata di lontarkan tiap harinya namun ketika disodorkan untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang dituntut untuk mereka menulis mereka mencoba melawan.
Fenomena sosial ini menjadi kegelisahaan bersama,mulai dari hal kecil untuk mengajak senang akan membaca, mencoba hal baru akan dunia literasi. Lingkungan akan mencoba membawa sesorang kedalam kegiatanya, apabila dalam sebuah lingkungan di kerumuni hal akan membaca,menulis,diskusi aksi,kreasi,riset. Maka orang yang malas membaca akan terbawa virus suka akan membaca. Oleh sebab itu kalau boleh berandai dalam sebuah kecamatan saja ada beberapa komunitas literasi atau bahkan Taman Baca Masyarakat yang begitu membeludak maka atmosfir di dalam lingkungan tersebut akan berubah drastic menjadi pecandu membaca.
Selamat membaca,tebarkan benih-benih literasi selamat bekerja,pekerja literasi..

Komentar
Posting Komentar